Info terbaru:

Jumat, 05 Juli 2013

Tolong Kami Semua!

   Bandung, 10 maret 1921.          13:50.

   "Awas..!!" Heri. Granat dari utara melayang menuju Heru, Hari dan Kopet.
   "Dwaaaarrr..." Granat meledak seketika.
   "Aaaaaa..." Berserentak. Heru terpental 3 meter. Hari dan kopet terpental menabrak dinding. Heri menghampiri Kopet yang ada di belakangnya. Wajahnya penuh darah segar. Heri tidak tinggak diam, kopet dibawa ke P3K terdekat. Paijo membantu
Heri. Setelah itu, mereka membawa Heru dan Hari ke P3K.
   "kamu gantikan posisi Heru, sementara aku menggantikan Hari dan Kopet, sekarang..!!" Paijo paham menganggukkan kepala.
   "Drrrrtt...drrrrtt..." Tajuddin menjaga bagian tenggara.
   "Sial..!!" Granat masuk dimana Tajuddin berada. Tajuddin melempar kembali granat itu.
   "Din arah jam 9..!!" Tajuddin menembak sebelah kiri. Muta'alimin melempar granatnya kearah depan.
   "Dwaaaarrr..." Granat meledak tepat sasaran, musuh terpental semua hingga tewas seketika. Tajuddin dan Muta'allimin memeriksa tempat itu setelah ledekan granat.
   "Situasi aman..." Muta'allimin, setelah memeriksa tempat itu.
   "Ayo kita bantu dibagian utara..!!" Tajuddin.
Mereka berangkat menuju Paijo berada.
   "Heru, Hari dan Kopet kemana?" Muta'allimin, sambil membantu Paijo.
   "Mereka terkena ledakan granat dan lukanya agak parah!!".

   3 jam kemudian, mereka berhasil mematahkan serangan Belanda dari utara. Mereka menghela nafas sebentar. Paijo, tangannya terkena panah, "Agrhh...!!" Paijo mencabut peluru ditangan sebelah kirinya. Mereka kembali dengan perasaan senang. Mobil TNI membawa mereka kemarkas bagian selatan. Muta'allimin mendengkur dikursi belakang mobil. Tajuddin tertidur disampingnya. Paijo menyulut rokoknya sembari memperhatikan jalan yang telah dilewati.

   Pukul 22.10 malam.

   Mereka sampai dimarkas, teman-teman mereka menyambut dengan senang dan gembira. Disamping itu Muta'allimin masih tertidur didalam mobil.
   "Hey coy..!! bangun..!! sudah sampai woy..!!" Paijo berkali-kali membangunkannya sampai kesal.
   "Wes..jarno wae, nanti bangun sendiri kok..." Tajuddin turun dari mobil. Paijo turun dari mobil setelah menendang kaki Muta'allimin.

   "Dimana yang lainnya...? kok tinggal sedikit, kenapa tidak meminta bantuan..?? " Jendral Nidhom sambil menyeruput kopi susunya.
   "Iya... tadi saya mau memnita bantuan, tapi Joko tewas terkena ledakan granat dan seketika hancur radionya". Tajuddin menundukk sedih karna sahabatnya meniggal.
   "Tapi sykurlah yang lainnya selamat, itu jatah untukmu..." Jendral Nidhom menunjukkan makanan yang didampingi Paijo. Tajuddin agak sedikit mempercepat langkah kakinya menghampiri Paijo, perutnya sudah berbunyi ketika pertempuran itu.
   "Muta'allimin mana..?" Tajuddin mengambil nasi bungkus diatas meja.
   "Dia lagi cuci muka dikamar mandi, dia terbangun karna mimpinya. Katanya dia mau ditembak sama anak kecil tanpa muka..." Paijo dan Tajuddin lantas tertawa terbahak-bahak. Muta'allimin menghampiri mereka.
   "Mana jatahku..?" sembari memegang perutnya yang lapar.
   "Itu diatas meja..." Muta'allimin memilih nasi mana yang paling banyak. Memang dia tidak makan sebelum menjaga pertahanan dibagian utara.
   "Sudah...semuanya sama banyaknya, jadi makan bareng gak..?" Paijo membuka bungkus nasinya.
   "Ya..ya.." Muta'allimin mengambil jatah nasinya. Setiap hari mereka selalu makan bersama. "Mangan ora mangan seng penting kumpul bareng" itulah kata-kata yang penting dalam kehidupan mereka selama ini.
   "Setelah makan, harap kehadirannya kekantor..!" Amin.
   Setelah mengisi perutnya, mereka menuju ke kantor dimana pak jendral Nidhom berada.
   "Assalamu'alaikum..!!" Hari mendahului lalu disusul yang lain. Kantor jendral Nidhom sederhana bercat kuning, lemari agak tua disebelah kanan pintu, dua kursi kayu didepannya terdapat meja yang dilapisi  kain hijau berbentuk wajik.
   "Wa'alaiukum salam..." Jendral Nidhom menjawab sembari menata berkas-berkas diatas meja.
   "Ada apa pak..." Tajuddin membuka pembicaraan.
   "Oh, iya...begini, kalian saya tugaskan pergi ke surabaya dan kalian semua beserta Heru, Hari dan Kopet saya naikkan pangkat kalian menjadi mayor tapi kalau kalian semua tidak bisa menyelesaikan tugas ini maka batal kenaikan pangkat kalian".
   "Serius pak...lalu apa tugasnya?" Paijo terlalu bersemangat.
   "Kalian harus merebut kembali kekuasaannya karna surabaya sekarang di kuasai Belanda dan kamu harus bisa menyelamatkan Ulin Nuha Wafa, Ach Faizin, Miftahul Huda, Sahal Zuhri, Lutfi Abdillah, Dimas Syahri dan Abdul Hadi. Jika kalian tidak bisa menyelamatkan dan merebut kekuasaannya kembali maka batal kenaikan pangkat kalian.
   "Ini pekerjaan yang sangat sulit jangan dianggap remeh, jika salah sedikit saja semua bisa berakibat fatal. Setiap sudut kota Surabaya dipasang CCTV. Mengerti..!" Jendral Nidhom memberikan selampir kertas berisikan nama-nama yang harus diselamatkan.
   "Glek..!" mereka hampir bersamaan.
   "Baik pak!" Muta'allimin dan Tajuddin agak grogi kecuali Paijo dengan suara lantang.
   "Kapan kami berangkat pak?" Paijo melanjutkan.
   "Tunggu mereka bertiga benar-benar sembuh".
Kemudian Paijo, Muta'allimin dan Tajuddin mengucapkan terimakasih disusul dangan salam lalu mereka meninggalkan kantor Jendral Nidhom.

   Diruang istirahat, kasur bertingkat biasa bagi para tentara.
   "Paijo...kamu sanggup melakukan semua tugas itu...he?" Muta'allimin kesal karna perilakunya tadi.
   "Dengan tujuan baik, aku akan mengorbankan nyawaku demi nama Allah SWT" Paijo duduk disamping ranjangnya sambil tangan kanannya menyentuh dada kirinya. Mereka tidur terlelap sampai matahari terbit.

Surabaya, 12 maret 1921.          04.00.

   Hutan yang tidak jauh dari kota surabaya. Dian Anggara, Fairuz Zabadi, Jibril Attar Alim Bakhroin dan teman-teman lainnya bersembunyi dari pantauan pasukan Belanda. Sudah 1 bulan mereka disana. Mereka hampir putus asa kecuali Fairuz Zabadi dan Jibril Attar. Mereka membuat rencana dan trik untuk mengalahkan Belanda.
   "Hey semuanya dengarkan aku!" Fairuz Zabadi berdiri disamping pohon besar.
   "Kita akan mendapatkan bantuan dari Bandung untuk menghancurkan kekuasaan Belanda selama ini di Surabaya" Mereka mendengarkan suaranya dengan seksama.
   "Mereka jumlahnya banyak atau sedikit?" Dian Anggara mengajukan pertanyaan.
   "Mereka hanya berjumlah 6 orang tapi mereka bisa diandalkan dalam situasi seperti ini".
   "Kapan mereka datang?" Alim Bakhroin sembari mengacungkan tangannya.
   "Entah kapan... tapi secepatnya".
   "Lalu apa rencana yang kalian buat tadi?".
   "Tunggu sebentar..." Fairuz Zabadi mengambil beberapa kertas yang berisikan rencana-rencananya. Fairuz Zabadi kemudian membacanya dengan keras sementara Jibril Attar menjelaskan rencana-rencana tersebut. Semuanya paham dengan menganggukkan kepala. Kemudian mereka semua mempersiapkan senjata dan peralatan yang dibutuhkan dan menunggu bantuan datang.

   Bandung, 17 maret 1921.          08.45.

   Sudah satu minngu mereka dirawat. Setelah mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa, mereka berpamitan kepada teman-teman dimarkas. Mereka diantar oleh Suharianto yang menjadi pilot di pesawat yang mengantar mereka ke kota Surabaya. Mereka berangkat tepat jam 09.00. Didalam pesawat Heru dan Kopet tertidur, sementara yang lainnya melihat-lihat pemandangan dari dalam jendela pesawat.
   "Baru pertama kali aku naik pesawat" Hari Sembari melihat pemandangan dari dalam jendela pesawat.
   "Awas jangan muntah didalam pesawat" Paijo memberikan sebuah kantong plastik. Hari menerima kantong plastik tersebut. Sunyi sepi didalam pesawat kecuali Kopet yang sedang mendengkur dengan suara yang sangat keras.

   3 jam berlalu, mereka akhirnya sampai didaerah Sidoarjo yang tidak jauh dari kota Surabaya. Mereka turun dengan barang-barang persenjataan mereka, kemudian Suharianto menyampaikan informasi bahwa sekarang mereka kelompok yang butuh bantuan sedang besembunyi  dihutan bagian selatan Surabaya. Mereka pun berpamitan, kemudian mereka berlalu dari Suharianto yang hendak kembali lagi ke Bandung.

   Hutan yang dimaksud pun mereka datangi. Setelah sampai ditempat tujuan, mereka disambut oleh Dian Anggara, Fairuz Zabadi dan teman-teman lainnya dengan hangat dan mereka pun saling berkenalan. Mereka pun  menceritakan pengalaman mereka selama di Bandung. Senang dan duka mereka rasakan semua, kemudian Fairuz Zabadi memberikan rencana yang telah disusun didalam beberapa kertas kepada mereka.
   "Apakah disini ada nama yang tertera disini?" Tajuddin menyodorkan secarik kertas yang diberikan oleh Jendral Nidhom padanya.
   " ya memang ada... tapi mereka sedang ditahan, mereka ada dibagian utara kota Surabaya. Mereka adalah orang-orang yang paling penting dan berpengaruh bagi kami" Fairuz Zabadi melihat secarik kertas yang diberikan oleh Tajuddin.

   3 hari kemudian, semua sudah siap untuk bertempur meskipun hidup atau mati demi Indonesia. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Jibril Attar, Kopet, Fairuz Zabadi dan 50 pasukan lainnya menuju utara. Sebelum berangkat, Dian Anggara, Alim Bakhroin dan Paijo mencabut kabel cctv sesuai jalan yang ditempuh. Sudah 3km mereka masuk wilayah kota Surabaya dan masih belum malihat tanda-tanda pasukan Belanda. Mereka tidak peduli markas baru Belanda saat ini. Mereka hanya memikirkan orang-orang penting dan berpengaruh yang masih ditahan. Fairuz Zabadi tidak sengaja melihat tank melewati perempatan jalan bagian kanan.
   "Semuanya sembunyi..!" bisikan adi agak keras.
   Tank melewati perempatan jalan, tapi Kopet menaiki tank tersebut dan membuka pintu dari atas secara paksa, lalu Kopet membunuh tentara yang ada didalam tank tersebut dengan agresif. Fairuz Zabadi dan Paijo membantu Kopet membuang mayat pasukan Belanda, sementara yang lainnya mengawasi keadaan sekitar.
   "Kamu periksa jalan-jalan sekitar sini dan kami mengikuti dari belakangmu" Fairuz Zabadi memerintahkan Heru untuk menyetir tank tersebut.

   4 jam berlalu, mereka berada diwilayah barat kota Surabaya. Sengaja mereka tidak mengambil jalur ke kota pusat. Tapi perkiraan mereka ternyata salah, kemudian...
   "Tuuuiiiuuu...tuuuiiiuuu..." bel alaram berbunyi bertanda mereka telah terdeteksi oleh pasukan Belanda.
   "BOOOM..!!!" heru mengandalkan tanknya untuk membombandir pasukan belanda. Sedangkan lainnya membuat posisi siaga. Pasukan Belanda kualahan menghadapi tank tersebut yang dikendalikan oleh Heru. Dan akhirnya pasukan belanda mundur. Cuma sedikit yang berhasil selamat dari keganasan tang tersebut. Paijo, Kopet, Alim Bakhroin memeriksa post pasukan Belanda hancur berantakan. Alim Bakhroin menemukan seseorang didalam lemari tua.
   "Tolong jangan tembak saya... saya akan turuti permintaan kamu tapi jangan tembak saya..." rintihan dari seseorang yang diikat tangannya dengan tali tampar warna putih agak kecoklatan.
   "Apakah kamu asli dari Indonesia?" Alim Bakhroin bertanya.
   "ya... saya dari Indonesia..." jawabnya.
   "Apakah kamu tidak ada kaitannya dengan Pasukan Belanda?" Alim Bakhroin mengarahkan ujung senjatanya pada orang tersebut.
   "Tidak...tidak... tidak sama sekali...! kalau tidak percaya coba lihat kartu identitas saya di saku belakang celana..." Alim Bakhroin mengambil dompet dari saku belakang celananya, dan melihat kartu identitasnya.
   "Siapa dia Alim?" Kopet menghampirinya.
   "Ini..." Alim Bakhroin memberikan kartu identitasnya kepada Kopet. Tapi sebelum menerimanya, Kopet langsung melepaskan ikatan tampar tesebut.
   "Apa yang kamu lakukan!" Alim Bakhroin menahan tangan kanan Kopet.
   "Ini orang yang aku maksud, namanya Lutfi abdillah dari lamongan, dia orang penting dan berpengaruh bagi kami" Alim Bakhroin paham menganggukkan kepala.

   Kopet dan Alim Bakhroin keluar dari reruntuhan bangunan tersebut dengan membawa seseorang.
   "Siapa dia Pet?" tanya teman lainnya.
   "Perkenalkan dia Lutfi Abdillah dari lamongan, dia ahli merangkai senjata dan membuat bom. Inilah dia yang aku maksud. Mereka semua kagum melihat Lutfi Abdillah.
   "Kamu tahu dimana mereka berada?" Kopet mengusulkan pertanyaan.
   "Saya tahu... mereka sekarang berada di kota Surabaya bagian utara dan mereka ditahan, tapi disana penjagaannya lebih ketat dari pada disini, mungkin mereka (pasukan Belanda) sebentar lagi akan membawa pasukan yang lebih banyak untuk menyerang kita".
   "Kalau gitu, kita begegas pergi dari sini sebelum mereka sampai dan membombandir kita" kata Fairuz Zabadi. Kemudian dia menyuruh semuanya untuk mengambil amunisi dan senjata yang masih bisa digunakan. Tak lama kemudian 5 pesawat melesat diatas mereka dan letusan roket pun terdengar.
   "Semuanya berlindung..!!!!!" teriak Kopet.
   Mereka berusaha menembak balik dengan senjata apa adanya.

   10 menit kemudian pasukan Belanda dan beberapa tank datang menggempur mereka. Heru yang dari tadi berada didalam tank rampasannya menembak kearah tank pasukan Belanda. Tapi tank pasukan Belanda lainnya membalas tembakan tersebut. Satu tank musuh berhasil dilumpuhkan, Heru berusaha menembakkan pelurunya lagi tapi pelurunya dengan tepat bertabrakan dengan peluru tank pasukan Belanda, tabrakan tersebut mengakibatkan ledakan yang keras dan hampir membunuh teman-teman lainnya. Heru melihat pasukan Belanda membawa sebuah RPG dan menembakkan kearahnya. Heru pun langsung meloncat dari tank rampasan itu. Tapi dia masih terkena ledakan RPG tersebut yang mengenai tank rampasannya. Paijo langsung membantunya menghindari serangan musuh dengan berlindung dibalik dinding yang sudah retak. Pertempuran semakin sengit. Pasukan Belanda semakin bertambah. Akhirnya Fairuz Zabadi dan teman-teman lainnya kualahan menghadapi gempuran pasukan Belanda. Mereka pu semakin terdesak sehinnga mereka masuk kedalam hutan yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Semuanya bersembunyi diatas pohon dan sebagian lainnya bersembunyi diantara semak-semak belukar.
   Setengah jam kemudian mereka keluar dari tempat persembunyiannya. Hanya suara pesawat dari atas yang berusaha mengintai mereka.
   "Bagaimana caranya kita keluar dari hutan ini?" Lutfi Abdillah melihat sekitar hutan yang lebat.
   "Kita telusuri hutan ini sampai Surabaya utara, tapi kita harus ke daerah gresik dulu. bagaimana?" Alim Bakhroin membuat usulan.
   "Iya, tapi ada yang bawa kompas?" Kopet. Semua saling melhat satu sama lainnya dan serentak menggelengkan kepala mereka.
   "Kita manfaatkan Matahri dan bulan, matahari terbit dari timur menuju barat dan bulan terbit dari barat menuju timur" Lutfi Abdillah. Jarinya menunjuk ke arah matahari.
   "Ayo berangkat..!!!"teriak Kopet. Semua menelusuri hutan sebagaimana pendapatnya Alim Bakhroin dan Lutfi Abdillah.

   Matahari (TOBE COUNTINUE.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar